Wawasan Majene — Pelaksana Tugas Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Rakyat (Plt Karo Pemkesra) menegaskan bahwa aksi penggalangan donasi untuk korban bencana yang marak dilakukan berbagai elemen masyarakat merupakan bentuk nyata dari empati dan solidaritas antarwarga Indonesia.
Ia menilai, semangat gotong royong yang muncul setiap kali terjadi musibah menunjukkan bahwa kepedulian sosial masih menjadi kekuatan utama bangsa yang majemuk ini.
Empati yang Terbangun Secara Alami
Menurut Plt Karo Pemkesra, tidak ada paksaan dalam setiap aksi penggalangan donasi. Masyarakat tergerak dengan sendirinya ketika melihat saudara-saudara mereka berada dalam kesulitan.
“Empati itu muncul tanpa disuruh. Warga kita cepat sekali merespon jika ada bencana. Itu bukti bahwa nilai kemanusiaan masih sangat kuat,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai komunitas, lembaga, hingga instansi pemerintah yang secara sukarela menginisiasi pengumpulan bantuan, baik berupa dana, logistik, maupun tenaga relawan.
Pemerintah Dorong Koordinasi Penyaluran
Meski berasal dari banyak pihak, Plt Karo Pemkesra menekankan pentingnya penyaluran bantuan dilakukan secara terkoordinasi agar tepat sasaran. Pemerintah daerah akan membantu memfasilitasi komunikasi dengan lembaga resmi penanganan bencana, sehingga bantuan dapat diterima oleh korban yang benar-benar membutuhkan.
“Semua kebaikan ini harus sampai ke tujuan dengan aman dan teratur. Karena itu koordinasi tetap penting,” ujarnya.

Baca juga: Dinkes Sulbar Imbau Masyarakat tetap Waspada Flu Tipe A
Cermin Persatuan Warga
Ia menyebut penggalangan donasi bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menjaga rasa persatuan. Ketika masyarakat bergerak bersama, jarak antarwilayah dan perbedaan latar belakang menjadi tidak berarti.
“Di situ kita melihat bahwa bencana tidak membuat kita terpecah, justru semakin menyatukan,” tambahnya.
Harapan: Semangat Kepedulian Terus Dijaga
Plt Karo Pemkesra berharap tradisi saling membantu seperti ini dapat terus dipelihara, bukan hanya saat terjadi bencana besar, tetapi juga dalam menghadapi persoalan-persoalan sosial lainnya.
“Empati adalah kekuatan bangsa. Pemerintah tentu bangga melihat masyarakat yang saling peduli. Semoga budaya tolong-menolong ini terus mengakar di setiap lapisan,” tutupnya.
Dengan pandangan tersebut, pemerintah menilai bahwa aksi penggalangan donasi bukan hanya sekadar kegiatan sosial, melainkan refleksi moral kolektif yang menjadi identitas masyarakat Indonesia.





